Archive for my words

Kejadian – Kejadian Bermakna Dalam Hidupku

PART I

Oh Tuhan, aku tak tahu mengapa Ia menangis!

Suatu ketika, saat aku masih kecil dahulu, di mana keluguan dan kepolosanku masih berjalan dengan lancarnya tanpa beban sedikitpun, di saat aku masih berikrar dengan santainya : Aku tak kan mau dikuasai oleh cinta, hidupku hanya untuk bersenang – senang, bersenang-senang kembali, dan terus bersenang – senang. Tak kupedulikan uangku habis karena tiap minggu aku mengunjungi tempat yang dalam pikiranku waktu itu sangatlah hebat, yaitu : mall.

Rasanya tak ada yang bisa menyanggah pandanganku tentang kehebatan mall. Bayangkan saja, setiap aku datang ke sebuah mall, yang kulihat hanyalah : beratus- ratus orang datang dan pergi dari sebuah mall yang tak kuketahui apa tujuannya. Pendapatku selalu mengatakan : Mall itu hebat. Di dalamnya kita tak kan bisa tahu apa yang terjadi di luar sana, entah cuaca sedang panas, hujan, ataupun hujan abu sekalipun, kita tak kan bisa merasakannya. Mall adalah tempat berlindung yang sangat aman, yang terbebas dari ancaman waktu baik itu siang, sore, atau malam. Dan mall sangat membuat kita lupa waktu. Apalagi waktu shalat. Iya kan?

Tapi kejadian sore itu sangat menyentuh perasaanku sehingga terpaksa memaksa pikiranku untuk mencatatnya. Sore itu sore yang sangat meletihkan. Seharian penuh aku berjalan – jalan mengelilingi mall dengan temanku. Entah untuk tujuan apa. Namanya juga masih anak sekolah, kami menekan ongkos pulang pergi dengan cara menaiki angkutan umum kemanapun kami pergi, termasuk jika ke mall. Sampai – sampai aku hafal semua rute angkutan umum menuju semua mall yang ada di kota Surabaya- kota besar yang berada tepat di sebelah kota tempat tinggalku- ( sepertinya aku pantas untuk bercita – cita menjadi guide tour ya? tapi khusus untuk tempat tujuan mall lho ). Dan sore menjelang malam itu berlangsung seperti biasanya, sampai angkutan kota mulai dipenuhi oleh orang – orang yang bernafsu ingin cepat sampai ke tempat tujuan mereka. Aku duduk di pojok paling belakang dan dekat dengan kaca besar yang bening di bagian belakang angkutan kota. Tempat favoritku, karena aku bisa melihat dengan jelas segala pemandangan jalan yang ada di belakang angkutan kota yang kunaiki.

Tepat di depan tempatku duduk, aku melihat dengan seksama orang yang duduk di depanku. Perempuan, kira – kira berumur sekitar 20 tahunan, sedang melamun sambil menopang wajahnya dengan sebelah tangannya. Tangan yang lain Ia pergunakan untuk mengapit erat tas nya. Ia terus menerus menghadap ke luar kaca besar di bagian belakang angkutan kota itu. Aku tahu Ia sedang memikirkan sesuatu.

Angkutan Kota itu berjalan sedang, tak cepat namun juga tak lambat. Kernet angkutan kota telah terdiam, tak lagi menjerit – jerit memanggil penumpang di tepi jalan agar menumpang, karena angkutan kota itu telah penuh sesak. Semua penumpang terdiam, semua sibuk berbicara dengan pikiran mereka masing – masing. Aku dapat melihat seluruh penumpang berkat adanya lampu di dalam angkutan kota yang hanya berukuran 5 watt, yang jelas dipasang demi penerangan seadanya. Setidaknya agar sopir dan kernet dapat melihat bahwa seluruh penumpangnya masih utuh, mungkin saja.

Dari cahaya penerangan yang sangat minim itu, entah mengapa aku tak lagi tertarik melihat pemandangan jalan yang bisa kulihat dari kaca besar di bagian belakang angkutan kota itu. Tetapi aku malah tertarik melihat perempuan itu (bukan berarti aku menyukai perempuan lho! Aduh, naudzubillah!). Entah mengapa, tetapi aku merasakan aura perempuan di hadapanku itu sangat layu, dan sunyi. Kalau tingkat kebahagiaan seseorang dinilai dari angka satu sampai sepuluh, mungkin tingkat kebahagiaannya hampir minus sepuluh. Menyedihkan bukan ?

Perempuan itu tak sadar kalau aku memperhatikannya. Ia terus menerus melamun ( atau berpikir ) sambil memperhatikan kaca besar di belakang angkutan kota itu. Ia tak menyadari bahwa aku memperhatikannya mungkin karena minimnya penerangan di dalam angkutan kota itu, atau…karena Ia terlalu hanyut dalam pikirannya?. Ah apa peduliku. Aku merasa bosan terus menerus menatap perempuan itu, lalu tertarik untuk melihat pemandangan jalan melalui kaca besar di belakang angkutan kota itu.

Baru saja aku akan menolehkan kepalaku guna melihat pemandangan jalan dari kaca besar, aku melihat kelebatan titik jatuh cepat dari hadapanku. Aku langsung berbalik arah lagi menatap perempuan di hadapanku tadi. Dan kulihat, Ia menangis. Seketika aku merasa bahwa Ia… hebat. Bagiku menangis diam – diam di angkutan umum yang notabene adalah tempat umum adalah hal yang kuanggap hebat.

Air mata turun deras dari kedua pelupuk matanya. Tetapi Ia masih tetap hening. Sama sekali tidak ada isakan sedikitpun. Setelah dirasa cukup banyak air yang keluar dari matanya, Ia cepat – cepat menghapusnya. Dan lagi – lagi, Ia tak sadar ada seorang anak kecil yang tidak tahu apa – apa, sedang memperhatikannya tepat di hadapannya. Aku melihat sekelilingku, semua orang sedang terkantuk –kantuk di dalam angkutan umum itu, tak terkecuali temanku yang saat itu duduk di sebelahku. Aku berani memastikan, bahwa hanya aku, manusia kecil yang memperhatikan detik – detik klimaks sedihnya hati dan pikiran perempuan itu di dalam angkutan kota Surabaya – Gresik malam itu.

Aku heran, apa yang membuatnya menangis di angkutan kota yang sempit dan menyedihkan itu. Masih banyak tempat – tempat lain yang masih pantas dijadikan tempat yang nyaman untuk menangis. Memangnya hal apa yang telah menyebabkan perempuan itu terpaksa menangis di angkutan kota tanpa bisa menahan air matanya untuk disimpan dan kalau perlu dikeluarkannya saat ia telah tiba di rumahnya, barangkali?

Pikiran anak kecilku saat itu berkecamuk aneh. Jangan – jangan Ia sedang diusir oleh orang tuanya dari rumah sehingga Ia mencari tempat persinggahan lain sekarang, lalu Ia bingung akan tinggal di mana?, atau jangan – jangan Ia baru saja putus dari kekasihnya? ( ah, lagi – lagi cinta…), atau yang lebih mengerikan lagi…jangan – jangan ada keluarganya yang meninggal? Atau kekasihnya yang meninggal dunia? Ah, aku tak tahu dan aku tak berani bertanya saat itu.

Aku tak habis pikir, apa semua orang dewasa seperti itu ya? Terlalu sensitif, terlalu pemikir, dan terlalu banyak masalah. Apa aku akan begitu ketika dewasa nanti? Uh, rasanya tidak ( pikirku saat itu), Dunia ini hanya akan menunjukkan kesenangan, kegembiraan, dan kebahagiaan. Bukankah begitu wahai teman – temanku sesama anak – anak kecil?

Aku terdiam larut dalam pertanyaan – pertanyaan yang berlalu – lalang di kepalaku saat itu. Sambil terus menghitung berapa kali perempuan itu mengusap air matanya. Ada 5 kali ia menghapus bersih air dari matanya sampai Ia turun di sebuah terminal. Ia berusaha terlihat tidak pernah dan tidak akan menangis lagi, mungkin Ia malu terlihat orang – orang bahwa Ia telah menangis ya?

Perempuan itu berjalan pelan menuju tempat pemberhentian bus di seberang terminal. Bus antar kota. Kutatap sosok perempuan itu lewat kaca belakang angkutan umum hingga tak Ia tak terlihat lagi. Kuterka – terka ke mana Ia akan pergi di malam itu. Ia berjalan menuju tempat pemberhentian bus antar kota. Apakah Ia akan menuju luar kota? Apakah Ia akan menuju rumah orang tuanya? Atau rumah kekasihnya? Atau rumah temannya? Ah, aku hanya bisa mendoakan semoga Ia baik- baik saja dan selamat sampai tujuannya. Malam ini terlalu bahaya bagi perempuan itu untuk bepergian keluar kota dalam keadaaan kalut seperti itu. Sambil terus bertanya – tanya di dalam pikiran dan hati kecilku, tentang ke mana perginya perempuan itu, aku mulai takut dan mulai was – was. Aku tak siap menjadi dewasa, dengan keadaanku yang seperti saat itu. Oh Tuhan, apakah hidup ini sekejam itu? Hingga membuat seorang perempuan menangis penuh luka di dalam sebuah angkutan umum yang sempit dan menyedihkan itu…entahlah.

Comments (2) »