Archive for November, 2008

Kupu-Kupu

Cerpen : Rahmayanti Husna
(telah dimuat di DeTeksi Jawa Pos dan Pontianak Pos)

Seringkali, tepatnya pada pagi hari. Saat lonceng sekolah berbunyi 7 kali, kupu-kupu itu selalu ada di sekolahku. Kupu-kupu itu berasal dari sebuah pohon beringin nan rimbun di tepi jalan raya. Tak jarang orang-orang berdecak kagum saat melihat sarangnya.

Saat ia terbang menuju sekolahku, orang-orang yang biasanya tidur-tiduran di jalanan pasti akan mendongakkan kepalanya sejenak untuk melihat dengan mata penuh pengharapan. Sembari meloncat-loncat guna menangkap serbuk yang dibawa kupu-kupu dari sarangnya untuk dibagikan saat ia terbang.

Setelah kupu-kupu puas membagi serbuk-serbuknya, tanpa letih ia menggerakkan cepat sayap merahnya yang berabstrakkan emas, hijau, putih, dan kuning. Kupu-kupu itu berniat terbang ke sekolahku.

Di sekolah, kupu-kupu selalu berusaha mengisap madu-madu yang telah dibuat dan dikumpulkan dengan susah payah oleh tawon-tawon di sekolahku. Entah mengapa tawon-tawon yang sarangnya terletak di pohon nangka nan jauh tinggi di sana selalu memuji kupu-kupu. Bahwa hanya kupu-kupu yang berusaha sekuat mungkin tanpa menghiraukan sayapnya yang pasti lelah untuk mencapai sarang tawon di atas pohon.

Teman-temanku pun memujinya karena orang tua kupu-kupu itu pun suka membagikan serbuk-serbuk kupunya dalam jumlah banyak untuk sekolahku. Tepatnya untuk pembangunan sekolahku. Entah bagaimana serbuk kupunya itu berpengaruh. Tapi yang pasti, pembangunan di sekolahku cukup lancar karena katanya adanya serbuk kupu.

Saat bel istirahat berbunyi, kupu-kupu itu selalu terbang ke mana-mana, tapi masih dalam lingkungan sekolahku. Teman-temanku tak bosan memujinya. Bahkan bunga-bunga, dari yang layu hingga yang sangat indah, seolah memekarkan mahkotanya sembari berseri-seri, menanti kupu-kupu itu lewat dan berharap untuk hinggap atau mungkin hanya melihat mereka.

Hingga akhirnya kupu-kupu itu terbang di atas bunga-bunga itu secara bergantian. Raut muka bunga-bunga itu menggambarkan perasaan berdebar-debar campur senang. Walaupun kupu-kupu itu hanya melihat mereka.

Sebenarnya aku tak seberapa menghiraukan adanya kupu-kupu itu. Sampai akhirnya kemarin siang, hari yang mengejutkan menurutku. Waktu itu aku berjalan-jalan di lorong sekolah dengan teman-temanku. Aku terus berjalan sambil bercerita dan bercanda.

Tiba-tiba ekor mataku menangkap adanya kupu-kupu itu terbang jauh ke atasku dalam jarak beberapa meter di depanku. Teman-temanku serempak berbisik-bisik kagum. Entah mengapa kupu-kupu yang biasanya terbang tinggi itu terbang rendah di hadapanku. Lalu, dengan gemulainya kupu-kupu itu menggerakkan sayapnya untuk terbang mengelilingiku.

Beberapa saat kemudian, baru kusadari teman-teman di sekitarku memandangiku dengan pandangan curiga campur iri. Bunga-bunga yang tadinya terlihat senang sambil membuka mahkotanya dengan serempak menutup cepat. Itu mungkin menggambarkan kecemburuan dan keiriannya padaku. “Hei, bagaimana mungkin kalian iri dan cemburu padaku padahal kupu-kupu itu hanya terbang sambil berputar mengelilingiku,” kataku pada mereka.

Tapi percuma. Yang kudengar hanyalah desisan angin menderu-deru, yang akhirnya kutahu berasal dari bunga-bunga. Mereka tak menyadari bahwa perasaanku seperti teriris-iris saat itu.

Hari berikutnya, kupu-kupu itu mulai hinggap di daun pintu kelasku. Dengan kepakan sayapnya yang indah, teman-temanku yang semula sibuk mengerjakan PR berlari menuju pintu untuk melihat kupu-kupu itu.

Aku yang pemalu tak mungkin melakukan hal yang sama dengan teman-temanku tadi. Kupu-kupu itu sudah menjadi bahan pembicaraan rutin di sekolahku. Bahwa kupu-kupu itu berwarna menarik, punya kepakan sayap yang indah, dan lain-lain.

Saat itu, aku tahu kupu-kupu itu sedang memperhatikanku. Kupu-kupu itu menunjukkan kepakan sayapnya tepat ke tempatku. Mungkin karena aku juga selalu melihatnya, kupu-kupu itu semakin sering hinggap di daun pintu kelasku sambil mengepakkan sayapnya yang diperlihatkan padaku.

Hari berikutnya, kupu-kupu itu lebih berani dan sering masuk ke dalam kelasku, berputar-putar ke sekeliling kelasku dahulu lalu berhenti hinggap di depan mejaku. Juga terkadang di bangku sebelahku. Para bunga semakin iri melihatku.

Hingga sampai tadi pagi, kupu-kupu itu terbang seperti biasa ke kelasku. Tetapi kupu-kupu itu mengubah tempat berlabuhnya. Tidak lagi di depan atau di sampingku, tapi di tanganku yang saat itu sedang memegang pensil. Dengan lihainya ia menggerakkan tanganku. Hingga di kertasku tercetus huruf-huruf berkesinambungan nan indah dan membentuk kalimat:

Selamat tinggal sahabat dekatku. Hingga detik ini tak pernah terpikirkan di benakku bahwa mulai saat ini aku tak akan bisa bersamamu atau mungkin kita tak dapat bertemu lagi. Tapi kau tetaplah pujaanku yang akan selalu di hatiku. Walau kutahu hatiku pasti terasa pilu saat jauh darimu dan akan selalu teringat saat-saat menyenangkan denganmu, itu akan menjadi kenangan indah dan tak dapat kulupakan. Apakah semua itu akan terulang kembali? Entahlah. Tapi saat ini aku hanya ingin mengucapkan selamat tinggal. Selamat tinggal dan berjanjilah kau tak akan pernah melupakanku.

Saat itu aku hanya diam sambil terus memandangi kata-kata itu tanpa menyadari bahwa kupu-kupu itu telah pergi. Aku pasti tak akan pernah melupakannya. Ia adalah sahabatku yang baik dan cakap. Aku baru mengerti bahwa hingga saat ini aku sangat menyukainya.

Esok harinya aku mendengar bunga-bunga berbisik, teman-teman pun saling berbicara tentang kupu-kupu itu. Aku tak mempedulikan hingga kudengar kata-kata yang sangat menusukku.

“Ia pergi karena orang tuanya. Orang tuanya tak setuju ia dekat dengan seorang cewek di sekolah ini. Hingga ia dipaksa oleh orang tuanya untuk pindah ke tempat tinggal yang lebih nyaman, yaitu ke negeri dongeng nan jauh di sana. Jauh dari sini, sangat jauh”

Leave a comment »

selasa 041108 22:32

ketiadaanmu buat aku gila

kepergianmu buatku lakukan ketidak masuk akalanku

kenangan pahitmu buyarkan seribu kebahagiaanku

ingatkanku akan keacuhanmu yang dulu

buatku tak mengerti

mengapa ku terus pikirkanmu,

dan terlalu cintaimu dalam setiap abaianmu

Comments (1) »

Mimpi

Aku akan terus mendekap erat mimpi – mimpiku

Kan kupatri benar – benar dalam khayal, ingatan, laku, dan doaku

Lalu suatu saat kan kulepaskan mimpiku itu

Terbang jauh namun dalam jangkauan penglihatan mataku

Kan kunikmati kendahannya

Kan kulalui semua bersama senyuman

Senyuman kebanggaan akan mimpi – mimpiku

Aku ingin menjadi hawa sejati

Yang anggun dalam setiap derap langkah menuju lorong akhir cahaya hidup

Dan akan kupahat semua yang dapat kupahat untuk kedua orang tuaku

Lalu kan kubuat Indonesia tersenyum

Tersenyum atas lahirnya aku

Aku yang tak hanya akan menjadi aku

Tetapi seniman kata – kata yang melahirkan nafas baru dalam sejarah..

Kan kubuat Indonesia mengenalku dan mengenangku !

Lalu kan kubuai Dunia ini tersenyum bangga padaku jua !

Leave a comment »

Kejadian – Kejadian Bermakna Dalam Hidupku

PART I

Oh Tuhan, aku tak tahu mengapa Ia menangis!

Suatu ketika, saat aku masih kecil dahulu, di mana keluguan dan kepolosanku masih berjalan dengan lancarnya tanpa beban sedikitpun, di saat aku masih berikrar dengan santainya : Aku tak kan mau dikuasai oleh cinta, hidupku hanya untuk bersenang – senang, bersenang-senang kembali, dan terus bersenang – senang. Tak kupedulikan uangku habis karena tiap minggu aku mengunjungi tempat yang dalam pikiranku waktu itu sangatlah hebat, yaitu : mall.

Rasanya tak ada yang bisa menyanggah pandanganku tentang kehebatan mall. Bayangkan saja, setiap aku datang ke sebuah mall, yang kulihat hanyalah : beratus- ratus orang datang dan pergi dari sebuah mall yang tak kuketahui apa tujuannya. Pendapatku selalu mengatakan : Mall itu hebat. Di dalamnya kita tak kan bisa tahu apa yang terjadi di luar sana, entah cuaca sedang panas, hujan, ataupun hujan abu sekalipun, kita tak kan bisa merasakannya. Mall adalah tempat berlindung yang sangat aman, yang terbebas dari ancaman waktu baik itu siang, sore, atau malam. Dan mall sangat membuat kita lupa waktu. Apalagi waktu shalat. Iya kan?

Tapi kejadian sore itu sangat menyentuh perasaanku sehingga terpaksa memaksa pikiranku untuk mencatatnya. Sore itu sore yang sangat meletihkan. Seharian penuh aku berjalan – jalan mengelilingi mall dengan temanku. Entah untuk tujuan apa. Namanya juga masih anak sekolah, kami menekan ongkos pulang pergi dengan cara menaiki angkutan umum kemanapun kami pergi, termasuk jika ke mall. Sampai – sampai aku hafal semua rute angkutan umum menuju semua mall yang ada di kota Surabaya- kota besar yang berada tepat di sebelah kota tempat tinggalku- ( sepertinya aku pantas untuk bercita – cita menjadi guide tour ya? tapi khusus untuk tempat tujuan mall lho ). Dan sore menjelang malam itu berlangsung seperti biasanya, sampai angkutan kota mulai dipenuhi oleh orang – orang yang bernafsu ingin cepat sampai ke tempat tujuan mereka. Aku duduk di pojok paling belakang dan dekat dengan kaca besar yang bening di bagian belakang angkutan kota. Tempat favoritku, karena aku bisa melihat dengan jelas segala pemandangan jalan yang ada di belakang angkutan kota yang kunaiki.

Tepat di depan tempatku duduk, aku melihat dengan seksama orang yang duduk di depanku. Perempuan, kira – kira berumur sekitar 20 tahunan, sedang melamun sambil menopang wajahnya dengan sebelah tangannya. Tangan yang lain Ia pergunakan untuk mengapit erat tas nya. Ia terus menerus menghadap ke luar kaca besar di bagian belakang angkutan kota itu. Aku tahu Ia sedang memikirkan sesuatu.

Angkutan Kota itu berjalan sedang, tak cepat namun juga tak lambat. Kernet angkutan kota telah terdiam, tak lagi menjerit – jerit memanggil penumpang di tepi jalan agar menumpang, karena angkutan kota itu telah penuh sesak. Semua penumpang terdiam, semua sibuk berbicara dengan pikiran mereka masing – masing. Aku dapat melihat seluruh penumpang berkat adanya lampu di dalam angkutan kota yang hanya berukuran 5 watt, yang jelas dipasang demi penerangan seadanya. Setidaknya agar sopir dan kernet dapat melihat bahwa seluruh penumpangnya masih utuh, mungkin saja.

Dari cahaya penerangan yang sangat minim itu, entah mengapa aku tak lagi tertarik melihat pemandangan jalan yang bisa kulihat dari kaca besar di bagian belakang angkutan kota itu. Tetapi aku malah tertarik melihat perempuan itu (bukan berarti aku menyukai perempuan lho! Aduh, naudzubillah!). Entah mengapa, tetapi aku merasakan aura perempuan di hadapanku itu sangat layu, dan sunyi. Kalau tingkat kebahagiaan seseorang dinilai dari angka satu sampai sepuluh, mungkin tingkat kebahagiaannya hampir minus sepuluh. Menyedihkan bukan ?

Perempuan itu tak sadar kalau aku memperhatikannya. Ia terus menerus melamun ( atau berpikir ) sambil memperhatikan kaca besar di belakang angkutan kota itu. Ia tak menyadari bahwa aku memperhatikannya mungkin karena minimnya penerangan di dalam angkutan kota itu, atau…karena Ia terlalu hanyut dalam pikirannya?. Ah apa peduliku. Aku merasa bosan terus menerus menatap perempuan itu, lalu tertarik untuk melihat pemandangan jalan melalui kaca besar di belakang angkutan kota itu.

Baru saja aku akan menolehkan kepalaku guna melihat pemandangan jalan dari kaca besar, aku melihat kelebatan titik jatuh cepat dari hadapanku. Aku langsung berbalik arah lagi menatap perempuan di hadapanku tadi. Dan kulihat, Ia menangis. Seketika aku merasa bahwa Ia… hebat. Bagiku menangis diam – diam di angkutan umum yang notabene adalah tempat umum adalah hal yang kuanggap hebat.

Air mata turun deras dari kedua pelupuk matanya. Tetapi Ia masih tetap hening. Sama sekali tidak ada isakan sedikitpun. Setelah dirasa cukup banyak air yang keluar dari matanya, Ia cepat – cepat menghapusnya. Dan lagi – lagi, Ia tak sadar ada seorang anak kecil yang tidak tahu apa – apa, sedang memperhatikannya tepat di hadapannya. Aku melihat sekelilingku, semua orang sedang terkantuk –kantuk di dalam angkutan umum itu, tak terkecuali temanku yang saat itu duduk di sebelahku. Aku berani memastikan, bahwa hanya aku, manusia kecil yang memperhatikan detik – detik klimaks sedihnya hati dan pikiran perempuan itu di dalam angkutan kota Surabaya – Gresik malam itu.

Aku heran, apa yang membuatnya menangis di angkutan kota yang sempit dan menyedihkan itu. Masih banyak tempat – tempat lain yang masih pantas dijadikan tempat yang nyaman untuk menangis. Memangnya hal apa yang telah menyebabkan perempuan itu terpaksa menangis di angkutan kota tanpa bisa menahan air matanya untuk disimpan dan kalau perlu dikeluarkannya saat ia telah tiba di rumahnya, barangkali?

Pikiran anak kecilku saat itu berkecamuk aneh. Jangan – jangan Ia sedang diusir oleh orang tuanya dari rumah sehingga Ia mencari tempat persinggahan lain sekarang, lalu Ia bingung akan tinggal di mana?, atau jangan – jangan Ia baru saja putus dari kekasihnya? ( ah, lagi – lagi cinta…), atau yang lebih mengerikan lagi…jangan – jangan ada keluarganya yang meninggal? Atau kekasihnya yang meninggal dunia? Ah, aku tak tahu dan aku tak berani bertanya saat itu.

Aku tak habis pikir, apa semua orang dewasa seperti itu ya? Terlalu sensitif, terlalu pemikir, dan terlalu banyak masalah. Apa aku akan begitu ketika dewasa nanti? Uh, rasanya tidak ( pikirku saat itu), Dunia ini hanya akan menunjukkan kesenangan, kegembiraan, dan kebahagiaan. Bukankah begitu wahai teman – temanku sesama anak – anak kecil?

Aku terdiam larut dalam pertanyaan – pertanyaan yang berlalu – lalang di kepalaku saat itu. Sambil terus menghitung berapa kali perempuan itu mengusap air matanya. Ada 5 kali ia menghapus bersih air dari matanya sampai Ia turun di sebuah terminal. Ia berusaha terlihat tidak pernah dan tidak akan menangis lagi, mungkin Ia malu terlihat orang – orang bahwa Ia telah menangis ya?

Perempuan itu berjalan pelan menuju tempat pemberhentian bus di seberang terminal. Bus antar kota. Kutatap sosok perempuan itu lewat kaca belakang angkutan umum hingga tak Ia tak terlihat lagi. Kuterka – terka ke mana Ia akan pergi di malam itu. Ia berjalan menuju tempat pemberhentian bus antar kota. Apakah Ia akan menuju luar kota? Apakah Ia akan menuju rumah orang tuanya? Atau rumah kekasihnya? Atau rumah temannya? Ah, aku hanya bisa mendoakan semoga Ia baik- baik saja dan selamat sampai tujuannya. Malam ini terlalu bahaya bagi perempuan itu untuk bepergian keluar kota dalam keadaaan kalut seperti itu. Sambil terus bertanya – tanya di dalam pikiran dan hati kecilku, tentang ke mana perginya perempuan itu, aku mulai takut dan mulai was – was. Aku tak siap menjadi dewasa, dengan keadaanku yang seperti saat itu. Oh Tuhan, apakah hidup ini sekejam itu? Hingga membuat seorang perempuan menangis penuh luka di dalam sebuah angkutan umum yang sempit dan menyedihkan itu…entahlah.

Comments (2) »

inspirasi

Ins….

Ins…

Ins…

Tak datang…

Tak tampak…

Kunanti…

Penuh

Sesak

Tak kunjung tiba

Ia hadir,

Lalu hilang,

Tiba kembali,

Lalu pergi,

Padahal ku butuh

Aku benci….

Benci,

Sampai akhirnya muncul

Inspirasi

Leave a comment »

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Comments (1) »